
MEDAN – Menjelang puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Oktober hingga November, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah kota agar memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Instruksi tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi banjir yang kerap melanda sejumlah wilayah di Kota Medan saat curah hujan meningkat. Rico meminta seluruh perangkat daerah bekerja secara terpadu dan tidak menunggu bencana terjadi untuk bertindak. Menurutnya, kesiapan sejak dini menjadi kunci utama dalam menekan dampak bencana terhadap masyarakat. Perintah tersebut sekaligus menjadi penegasan komitmen Pemerintah Kota Medan dalam melindungi keselamatan warganya.
Dalam arahannya, Rico meminta jajarannya belajar dari pengalaman banjir besar yang melanda Kota Medan pada akhir tahun lalu. Peristiwa tersebut dinilai menjadi pelajaran berharga yang tidak boleh terulang dengan dampak yang sama. Ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap berbagai kekurangan dalam penanganan bencana sebelumnya. Menurutnya, pengalaman tersebut harus menjadi dasar dalam menyusun langkah-langkah mitigasi yang lebih tepat dan efektif. Rico berharap seluruh pihak dapat bekerja lebih sigap dan terkoordinasi dalam menghadapi potensi bencana serupa.
Peringatan tersebut sejalan dengan prakiraan cuaca yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Lembaga tersebut memprediksi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi berpotensi mengguyur Kota Medan pada 12–13 Oktober 2026. Prakiraan itu menjadi sinyal bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Curah hujan yang tinggi dalam waktu singkat dikhawatirkan dapat membuat sejumlah saluran air tidak mampu menampung debit air. Kondisi tersebut berpotensi memicu genangan hingga banjir, terutama di kawasan yang selama ini dikenal rawan.
Menyikapi prakiraan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan segera menyiagakan personel dan peralatan guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir. Langkah siaga tersebut difokuskan pada wilayah-wilayah yang dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap genangan. Koordinasi dengan berbagai instansi terkait juga terus diperkuat agar penanganan di lapangan berjalan cepat dan tepat sasaran. Kesiapsiagaan tersebut dilakukan sebagai bentuk respons atas instruksi wali kota. BPBD menegaskan bahwa upaya antisipasi dilakukan sejak dini demi meminimalkan risiko bagi masyarakat.
Kepala BPBD Kota Medan, Yunita Sari, mengatakan bahwa pihaknya telah menyiagakan sebanyak 53 personel Tim Reaksi Cepat (TRC) pada Senin (12/10/2026). Personel tersebut bertugas merespons setiap laporan masyarakat yang masuk terkait kejadian bencana, termasuk banjir dan genangan air. Menurut Yunita, kesiapan personel menjadi faktor penting agar penanganan dapat dilakukan tanpa menunggu waktu lama. Seluruh anggota TRC disebut dalam kondisi siap dikerahkan sewaktu-waktu ke lokasi yang membutuhkan bantuan. Penyiagaan tersebut dilakukan selama masa potensi hujan lebat berlangsung.
Selain menyiagakan personel, BPBD Kota Medan juga menyiapkan berbagai peralatan untuk mendukung penanganan darurat. Peralatan tersebut meliputi perahu karet yang dapat digunakan untuk evakuasi warga di kawasan yang tergenang cukup dalam. BPBD juga menyiapkan tenda pengungsian sebagai tempat sementara bagi warga yang terdampak. Kendaraan operasional turut disiagakan agar mobilitas petugas ke lokasi kejadian tidak terhambat. Dukungan peralatan komunikasi pun disiapkan guna menjaga koordinasi antarpetugas tetap lancar selama penanganan berlangsung.
Rico menegaskan bahwa mitigasi bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab BPBD, tetapi juga seluruh perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota Medan. Ia meminta dinas terkait memastikan kondisi saluran drainase, parit, dan sungai dalam keadaan baik serta bebas dari sumbatan sampah. Pembersihan dan normalisasi saluran air dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama menjelang puncak musim hujan. Menurutnya, perawatan infrastruktur pengendali banjir yang optimal akan membantu mengurangi risiko genangan di permukiman warga. Rico berharap kerja sama lintas sektor dapat berjalan efektif demi mewujudkan kesiapsiagaan yang menyeluruh.
Di sisi lain, pemerintah kota juga mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menghadapi potensi bencana banjir. Warga diimbau tidak membuang sampah sembarangan karena dapat menyumbat saluran air dan memperparah genangan. Masyarakat juga diminta selalu memantau informasi cuaca dari sumber resmi serta segera melapor kepada petugas apabila terjadi kondisi darurat. Kesadaran dan kepedulian warga dinilai menjadi bagian penting dalam upaya pengurangan risiko bencana. Pemerintah berharap partisipasi masyarakat dapat memperkuat langkah-langkah mitigasi yang telah disiapkan.
Pemerintah Kota Medan memastikan akan terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi di lapangan selama periode puncak musim hujan berlangsung. Seluruh jajaran diminta tetap waspada dan siap bergerak cepat apabila terjadi peningkatan debit air maupun potensi banjir di wilayah tertentu. Koordinasi dengan BMKG akan terus dijalin untuk memperoleh informasi prakiraan cuaca terbaru dan akurat. Informasi tersebut dinilai penting sebagai dasar pengambilan keputusan dalam penanganan bencana. Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu menekan potensi kerugian bagi masyarakat.
Melalui penguatan kesiapsiagaan dan mitigasi sejak dini, Pemerintah Kota Medan berharap dapat menghadapi puncak musim hujan dengan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Sinergi antara pemerintah, BPBD, instansi terkait, dan masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi ancaman banjir. Pengalaman banjir besar akhir tahun lalu diharapkan menjadi pengingat bahwa kewaspadaan tidak boleh kendur. Ke depan, berbagai pihak berharap penanganan bencana di Kota Medan dapat berjalan semakin cepat, tepat, dan terkoordinasi. Dengan kesiapan yang matang, risiko dan dampak bencana terhadap masyarakat diharapkan dapat ditekan seminimal mungkin.
