
PEMPROVSUMUT – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan akan melaksanakan rangkaian kegiatan Bulan Bakti Peternakan dan World Rabies Day (WRD) Tahun 2026. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni pada tanggal 26 hingga 27 September 2026. Lokasi pelaksanaan kegiatan dipusatkan di Lapangan Astaka, Medan Sport Center, yang diperkirakan akan dipadati oleh berbagai elemen masyarakat serta instansi terkait. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang secara khusus menyasar sektor peternakan dan kesehatan hewan di wilayah Sumatera Utara. Persiapan pelaksanaan kegiatan tersebut kini tengah dimatangkan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara, Fariz Haholongan Hutagalung, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki tujuan yang sangat strategis bagi masyarakat. Menurutnya, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan hewan peliharaan maupun ternak. Selain itu, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat upaya pengendalian penyebaran penyakit rabies di tengah masyarakat. Fariz menambahkan bahwa kegiatan ini turut menjadi bagian dari dukungan pemerintah provinsi terhadap kemajuan sektor peternakan di Sumatera Utara. Ia berharap pelaksanaan kegiatan tersebut dapat memberikan dampak positif secara berkelanjutan bagi masyarakat maupun sektor peternakan daerah.
Fariz menegaskan bahwa tingginya angka kasus rabies di Sumatera Utara menjadi salah satu perhatian serius pemerintah provinsi saat ini. Ia menyampaikan hal tersebut dalam keterangannya pada Sabtu, 19 September 2026, terkait rencana pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, penguatan vaksinasi hewan menjadi salah satu langkah nyata dalam menekan penyebaran kasus rabies di berbagai daerah. Kegiatan tersebut juga dinilai sebagai wujud konkret semangat kolaborasi antar-instansi dalam mewujudkan program Peternakan Maju dan Sumatera Utara Bebas Rabies. Program tersebut disebutkan sejalan dengan arah pembangunan yang dicanangkan oleh Gubernur Sumatera Utara.
Salah satu kegiatan utama yang menjadi sorotan dalam rangkaian Bulan Bakti Peternakan dan World Rabies Day 2026 adalah pelaksanaan vaksinasi rabies secara serentak. Vaksinasi tersebut akan menyasar Hewan Pembawa Rabies (HPR) yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota se-Sumatera Utara. Jumlah hewan yang ditargetkan untuk menerima vaksinasi tersebut mencapai ribuan ekor, sebagai bagian dari upaya besar pengendalian rabies di tingkat provinsi. Pelaksanaan vaksinasi serentak ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari petugas kesehatan hewan hingga relawan di masing-masing daerah. Upaya tersebut diharapkan mampu memberikan perlindungan maksimal bagi masyarakat dari ancaman penyakit rabies.
Selain bertujuan untuk pengendalian penyakit, kegiatan vaksinasi tersebut juga diarahkan untuk mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Rekor yang dibidik adalah kategori vaksinasi rabies terbanyak yang pernah dilaksanakan di tingkat provinsi. Upaya pencatatan rekor tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah provinsi dalam meningkatkan cakupan vaksinasi rabies secara masif. Selain itu, langkah tersebut juga dimaksudkan untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan dari penyakit zoonosis tersebut. Pemerintah provinsi berharap pencapaian rekor tersebut dapat menjadi motivasi bagi daerah lain untuk melakukan langkah serupa.
Fariz menjelaskan bahwa dalam kegiatan tersebut, pemerintah provinsi menargetkan sebanyak 15.000 ekor Hewan Pembawa Rabies (HPR) untuk menerima vaksinasi. Hewan-hewan yang dimaksud meliputi anjing, kucing, dan kera yang tersebar di berbagai wilayah Sumatera Utara. Pelaksanaan vaksinasi tersebut akan dilakukan secara serentak di seluruh kabupaten dan kota se-Sumatera Utara pada waktu yang telah ditentukan. Fariz menegaskan bahwa kegiatan ini sekaligus diarahkan untuk mencatatkan rekor MURI vaksinasi rabies terbanyak di tingkat provinsi. Ia berharap target tersebut dapat tercapai dengan dukungan penuh dari seluruh pemangku kepentingan terkait.
Lebih lanjut, Fariz menjelaskan bahwa rabies merupakan salah satu penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan kepada manusia. Penyakit tersebut dinilai sangat berbahaya karena dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Oleh karena itu, peningkatan cakupan vaksinasi terhadap Hewan Pembawa Rabies menjadi salah satu langkah penting dalam upaya pengendalian penyakit tersebut. Selain vaksinasi, pengawasan terhadap populasi hewan turut menjadi perhatian utama dalam upaya pencegahan penyebaran rabies di masyarakat. Fariz menegaskan bahwa seluruh langkah tersebut harus dilakukan secara terintegrasi agar hasilnya dapat optimal.
Selain vaksinasi dan pengawasan populasi hewan, edukasi kepada masyarakat turut menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian rabies di Sumatera Utara. Fariz menekankan bahwa masyarakat perlu diberikan pemahaman yang memadai mengenai bahaya penyakit rabies serta cara pencegahannya. Edukasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap risiko penularan rabies dari hewan peliharaan maupun hewan liar. Selain itu, edukasi juga diarahkan untuk mendorong masyarakat agar segera membawa hewan peliharaannya untuk divaksinasi secara rutin. Upaya edukasi tersebut akan dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai media dan kegiatan sosialisasi di tingkat daerah.
Penanganan terhadap kasus gigitan hewan penular rabies juga menjadi salah satu fokus utama dalam upaya pengendalian rabies di Sumatera Utara. Fariz menjelaskan bahwa penanganan yang cepat dan tepat terhadap korban gigitan hewan sangat penting untuk mencegah risiko fatal akibat rabies. Oleh karena itu, ketersediaan layanan kesehatan yang responsif terhadap kasus gigitan hewan penular rabies harus terus ditingkatkan di seluruh daerah. Pemerintah provinsi juga akan memperkuat koordinasi dengan fasilitas kesehatan guna memastikan penanganan kasus tersebut berjalan optimal. Langkah tersebut diharapkan dapat menekan angka kematian akibat rabies di Sumatera Utara secara signifikan.
Melalui rangkaian kegiatan Bulan Bakti Peternakan dan World Rabies Day 2026, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berharap dapat mewujudkan visi Sumatera Utara yang bebas dari ancaman rabies. Kegiatan tersebut juga diharapkan mampu memperkuat sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga kesehatan hewan dan manusia. Fariz menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat di berbagai daerah. Pemerintah provinsi berkomitmen untuk terus mengawal pelaksanaan program pengendalian rabies hingga tuntas. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju terwujudnya Sumatera Utara yang maju di sektor peternakan sekaligus bebas dari penyakit rabies.
