
WARTAWAN24.COM — Sebuah peristiwa pengeroyokan terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara, menimpa seorang wanita penagih utang yang tengah menjalankan tugasnya. Insiden tersebut melibatkan keluarga seorang nasabah yang diduga tidak terima dengan cara penagihan yang dilakukan korban. Akibatnya, korban mengalami luka-luka dan motornya pun rusak parah.
Peristiwa itu berlangsung pada Sabtu (8/11/2025) sore di kawasan Kecamatan Medan Denai. Video kejadian yang beredar di media sosial memperlihatkan korban dikeroyok oleh beberapa orang di depan rumah salah satu pelaku. Sejumlah warga sempat mencoba melerai, namun suasana tetap ricuh.
Menurut keterangan saksi mata, korban datang ke lokasi untuk menagih pembayaran cicilan kepada salah satu anggota keluarga pelaku. Namun, belum sempat menjelaskan maksud kedatangannya, ia justru mendapat serangan verbal dan fisik.
“Awalnya cuma adu mulut, tapi lama-lama keluarga itu ramai keluar rumah dan langsung memukul korban,” kata seorang warga yang enggan disebut namanya.
Korban yang diketahui bekerja sebagai petugas lapangan di salah satu perusahaan pembiayaan swasta itu tidak sempat melawan. Ia berusaha melindungi diri sambil meminta tolong kepada warga sekitar.
Selain mengalami kekerasan fisik, kendaraan roda dua yang digunakan korban juga menjadi sasaran amukan massa. Beberapa bagian motor seperti spion, lampu depan, dan bodi mengalami kerusakan cukup parah.
“Motornya diseret dan ditendang berkali-kali. Saya lihat sendiri waktu itu,” tambah saksi tersebut.
Setelah kejadian, korban melaporkan insiden itu ke Polsek Medan Area untuk mendapatkan perlindungan hukum. Ia juga menjalani pemeriksaan medis di puskesmas terdekat akibat luka lebam di bagian lengan dan wajah.
Kapolsek Medan Area, Kompol Bambang S, membenarkan adanya laporan terkait kasus pengeroyokan tersebut. Ia mengatakan bahwa pihaknya sudah menerima aduan dan sedang melakukan penyelidikan terhadap pelaku.
“Benar, ada laporan masuk. Korban sudah kami mintai keterangan, dan saat ini kami sedang mengumpulkan bukti serta saksi di lokasi,” ujar Kompol Bambang kepada wartawan, Minggu (9/11/2025).
Polisi juga telah mengamankan rekaman video dari warga yang sempat merekam kejadian itu. Video tersebut menjadi salah satu bukti penting dalam proses penyelidikan.
“Kami akan memanggil semua pihak yang terlibat, termasuk keluarga nasabah yang diduga melakukan pengeroyokan. Jika terbukti, akan kami proses sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.
Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun, terutama terkait masalah utang piutang. Semua sengketa keuangan, menurutnya, harus diselesaikan melalui jalur hukum atau kesepakatan damai yang sesuai prosedur.
Sementara itu, perusahaan tempat korban bekerja menyatakan sikap tegas terhadap kejadian ini. Dalam keterangan resmi yang disampaikan melalui perwakilan manajemen, mereka menegaskan bahwa korban hanya menjalankan tugas sesuai aturan perusahaan.
“Karyawan kami bekerja berdasarkan standar operasional. Kami menyesalkan kejadian ini dan berharap penegak hukum dapat memberikan keadilan bagi korban,” tulis pernyataan resmi perusahaan tersebut.
Kasus kekerasan terhadap penagih utang bukan kali pertama terjadi di Medan. Sebelumnya, beberapa insiden serupa juga sempat viral di media sosial dan mendapat perhatian publik luas.
Pengamat sosial dari Universitas Sumatera Utara (USU), Dr. Hendri Lubis, menilai bahwa kasus seperti ini menunjukkan masih rendahnya literasi finansial masyarakat serta kurangnya komunikasi antara pihak debitur dan perusahaan pembiayaan.
“Permasalahan seperti ini sering muncul karena miskomunikasi dan tekanan ekonomi. Masyarakat perlu diedukasi bahwa kekerasan tidak akan pernah menjadi solusi,” ujar Hendri.
Ia juga mendorong perusahaan pembiayaan untuk lebih memperhatikan pendekatan humanis dalam proses penagihan agar tidak menimbulkan gesekan di lapangan. “Penagih utang juga perlu dilatih menghadapi situasi emosional dengan cara yang profesional,” tambahnya.
Hingga berita ini ditulis, pihak kepolisian masih terus memeriksa beberapa saksi dan memantau kondisi korban. Warga sekitar berharap kasus ini segera diselesaikan agar tidak menimbulkan keresahan di lingkungan.
“Kami kasihan sama ibu itu. Cuma kerja, malah dipukul ramai-ramai,” kata warga sekitar yang turut menyaksikan insiden tersebut.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa persoalan ekonomi, jika tidak disikapi dengan kepala dingin, dapat berujung pada tindakan kekerasan yang merugikan banyak pihak. Pihak berwenang diharapkan segera mengambil langkah tegas agar kejadian serupa tidak terulang kembali di kemudian hari.
