
WARTAWAN24.COM – Di tengah gencarnya program bantuan pendidikan pemerintah, sebuah kisah menyentuh datang dari Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Seorang guru sekolah dasar (SD) di Kecamatan Pematang Purba membagikan pengalamannya saat menemukan seorang murid yang datang ke sekolah dengan sepatu rusak parah dan kaos kaki diikat dengan karet agar tampak rapi.
Dalam unggahannya di media sosial, guru tersebut menulis dengan nada sedih dan prihatin. “Hari ini kebetulan teman saya di kelas rombel lain izin karena sakit, jadi murid-muridnya saya gabungkan di kelas saya,” tulis sang guru membuka ceritanya.
Ia kemudian menceritakan bagaimana pandangannya tertuju pada seorang anak laki-laki di pojok kelas. Sepatu anak itu tampak menganga lebar di bagian depan. “Awalnya tidak terlihat karena tertutup kaos kaki yang diikat karet. Tapi saat ia berjalan ke depan, saya baru sadar kondisi sebenarnya,” ungkapnya.
Kisah itu sontak menarik perhatian publik. Banyak warganet yang merasa terenyuh melihat potret nyata perjuangan anak-anak di daerah pelosok untuk tetap bersekolah, meskipun dalam keterbatasan.
Menurut sang guru, siswa tersebut merupakan penerima Program Indonesia Pintar (PIP), sebuah bantuan pemerintah untuk mendukung pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Namun, kondisi di lapangan ternyata belum sepenuhnya sesuai harapan.
“Dia memang penerima PIP, tapi uang bantuan itu seringkali habis untuk kebutuhan keluarga, bukan sepatu atau seragam,” tulis sang guru menjelaskan. Hal ini mencerminkan bagaimana realita ekonomi di beberapa keluarga masih membuat bantuan pendidikan tidak sepenuhnya bisa digunakan sesuai tujuan semula.
Guru tersebut juga menuturkan bahwa anak itu tetap semangat belajar meski seragamnya sudah kusam dan sepatu rusak. “Dia datang paling pagi, duduk paling depan, dan tidak pernah absen. Setiap kali saya tanya cita-citanya, dia jawab ingin jadi polisi,” kisahnya haru.
Unggahan tersebut langsung mendapat ratusan komentar dan ribuan reaksi dari masyarakat. Banyak yang mengapresiasi kepedulian sang guru yang tidak hanya mengajar, tapi juga memperlihatkan sisi kemanusiaan dan empati terhadap muridnya.
Beberapa pengguna media sosial bahkan mengusulkan penggalangan dana untuk membantu siswa tersebut dan teman-temannya yang mungkin mengalami hal serupa. “Bantuan langsung seperti ini lebih terasa manfaatnya,” tulis seorang warganet.
Kisah ini juga mengingatkan bahwa meskipun pemerintah telah meluncurkan berbagai program bantuan, pelaksanaannya di lapangan masih memerlukan pengawasan yang lebih baik. “Kadang bantuan sudah ada, tapi akses dan pendampingannya yang belum maksimal,” ujar seorang pemerhati pendidikan di Simalungun.
Bagi sang guru, kejadian ini menjadi refleksi mendalam tentang arti sebenarnya dari tugas pendidik. Ia menyebut bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan pelajaran, tapi juga menyentuh sisi kemanusiaan. “Kami bukan hanya mengajarkan membaca dan berhitung, tapi juga menguatkan semangat mereka untuk terus bermimpi,” katanya.
Ia juga mengaku kerap menyisihkan sebagian gajinya untuk membantu murid-murid yang membutuhkan. “Tidak banyak, tapi setidaknya bisa membuat mereka tersenyum,” ucapnya dengan rendah hati.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Simalungun disebut telah mengetahui kisah viral ini. Pihaknya berjanji akan menelusuri kondisi sekolah dan siswa tersebut untuk memastikan bantuan benar-benar tepat sasaran.
Seorang pejabat dinas mengatakan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan sekolah dan pihak desa untuk memastikan tidak ada lagi siswa yang bersekolah dengan kondisi memprihatinkan. “Kami akan segera menindaklanjuti,” ujarnya singkat.
Kisah ini pun kembali membuka mata masyarakat tentang ketimpangan akses pendidikan yang masih terjadi di berbagai pelosok Indonesia. Di satu sisi, banyak sekolah di kota besar yang sudah menikmati fasilitas modern, sementara di daerah terpencil masih ada anak-anak yang harus berjalan jauh dan memakai sepatu rusak demi menuntut ilmu.
Namun di balik semua itu, ada semangat luar biasa dari para guru seperti yang terjadi di Simalungun. Mereka tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga menjadi penjaga harapan bagi masa depan anak-anak di daerah.
“Setiap kali saya melihat sepatu menganga itu, saya tidak merasa kasihan. Saya merasa terinspirasi. Anak ini berjuang keras untuk sekolah, sementara banyak anak lain yang punya segalanya justru malas belajar,” tulis sang guru menutup ceritanya.
Kisah sederhana ini menggambarkan realita bahwa pendidikan bukan hanya soal fasilitas, tapi tentang semangat, kepedulian, dan harapan. Dalam dunia yang serba digital dan modern, masih ada cerita-cerita kecil dari pelosok negeri yang mengingatkan kita: bahwa cita-cita besar sering kali tumbuh dari tempat yang sederhana.
