
MANCANEGARA – Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat memasuki babak baru setelah kapal militer Jepang resmi merapat di wilayah tersebut. Kapal perang milik Jepang, JS Kunisaki, tiba di Pelabuhan Internasional Kijing, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, pada Kamis (10/9/2026). Kedatangan kapal ini menandai realisasi konkret dari komitmen bantuan kemanusiaan yang sebelumnya telah dijanjikan oleh Pemerintah Jepang kepada Indonesia. Kapal angkut amfibi milik Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF) tersebut merupakan bagian dari kerja sama pertahanan yang kini memasuki babak baru yang sangat strategis. Momentum ini sekaligus menegaskan keseriusan kedua negara dalam memperkuat solidaritas menghadapi bencana alam lintas batas. Kehadiran armada Jepang tersebut langsung disambut sebagai angin segar bagi upaya pemadaman api yang telah berlangsung berminggu-minggu.
Dari sisi teknis, kapal yang dikerahkan bukanlah kapal sembarangan, melainkan kapal pendarat tank kelas Osumi dengan bobot cukup besar. JS Kunisaki (LST-4003) memiliki bobot 8.900 ton dan tergolong dalam kelas Osumi. Kapal berukuran raksasa ini dirancang khusus untuk mengangkut alat berat, termasuk helikopter, dalam jumlah signifikan sekaligus. Kapal tersebut mengangkut tiga unit helikopter angkut berat CH-47 Chinook milik Pasukan Bela Diri Darat Jepang (JGSDF). Ketiga helikopter tersebut menjadi andalan utama dalam misi pemadaman api dari udara di wilayah Kalimantan Barat.
Selain membawa alat utama sistem senjata berupa helikopter, kapal ini juga mengangkut personel dalam jumlah besar untuk mendukung kelancaran operasi. Sekitar 180 personel militer Jepang dikerahkan bersama tiga helikopter Chinook untuk memperkuat daya jangkau pemadaman di titik-titik api yang sulit diakses. Selain personel tersebut, kapal JS Kunisaki juga membawa sekitar 150 awak kapal yang bertugas mendukung kelancaran logistik dan operasional selama masa bantuan berlangsung. Dengan demikian, total personel yang terlibat dalam misi kemanusiaan ini mencapai ratusan orang. Besarnya jumlah personel ini mencerminkan skala keseriusan Jepang dalam menjalankan misi tersebut hingga tuntas.
Perjalanan kapal JS Kunisaki menuju Indonesia sendiri telah dimulai sejak akhir Agustus lalu dari pangkalan militer di Jepang. JS Kunisaki sebelumnya telah bertolak dari pangkalan JMSDF Kure di Prefektur Hiroshima sejak 30 Agustus 2026. Perjalanan laut yang ditempuh kapal ini memakan waktu lebih dari satu minggu sebelum akhirnya tiba di perairan Kalimantan Barat. Sebelum bersandar di Pelabuhan Kijing, kapal tersebut sempat memasuki perairan Kalimantan Barat pada pertengahan pekan ini. Rangkaian perjalanan panjang tersebut menunjukkan kesungguhan Jepang dalam merespons permintaan bantuan penanganan bencana dari Indonesia.
Misi ini pun tercatat sebagai tonggak sejarah baru bagi kekuatan militer Jepang dalam ranah kemanusiaan internasional. Misi kemanusiaan ini mencatatkan sejarah baru bagi Kementerian Pertahanan Jepang karena menjadi operasi pemadaman kebakaran luar negeri pertama yang pernah dilakoni oleh Pasukan Bela Diri Jepang. Selama ini, Pasukan Bela Diri Jepang dikenal cenderung membatasi keterlibatan langsung di luar wilayah negaranya sendiri. Keputusan mengirimkan alutsista dan personel ke Indonesia menunjukkan pergeseran signifikan dalam kebijakan pertahanan Jepang terkait misi kemanusiaan lintas negara. Langkah bersejarah ini pun mendapat perhatian luas, baik dari kalangan pemerintah maupun pemerhati hubungan internasional di kedua negara.
Dari sisi kebijakan, bantuan ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan buah dari kesepakatan kerja sama pertahanan yang telah dirancang sebelumnya. Dukungan ini merupakan wujud nyata dari Defence Cooperation Arrangement (DCA) antara Indonesia dan Jepang yang telah ditandatangani pada 4 Mei 2026. Salah satu poin krusial dalam perjanjian tersebut adalah kerja sama pengelolaan bencana atau Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR). Kesepakatan tersebut menjadi landasan hukum dan diplomatik bagi pengerahan alutsista militer Jepang ke wilayah Indonesia. Kerangka kerja sama semacam ini diharapkan dapat terus berlanjut untuk berbagai jenis bencana alam di masa mendatang.
Sebelum benar-benar diterjunkan ke lokasi kebakaran, ketiga helikopter Chinook tersebut harus melewati sejumlah tahapan teknis dan uji kelaikan terlebih dahulu. Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Letjen TNI Tri Budi Utomo, helikopter CH-47 Chinook tersebut harus menjalani penyiapan sistem serta uji terbang. Uji terbang helikopter tersebut dilakukan di Bandara Supadio, Pontianak. Tahapan ini dinilai penting untuk memastikan seluruh sistem pesawat berfungsi optimal sebelum dioperasikan dalam kondisi medan yang berat. Proses tersebut juga bertujuan menjamin keselamatan kru maupun masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Setelah seluruh persiapan teknis rampung, operasi pemadaman udara dijadwalkan berlangsung dalam kurun waktu tertentu pada bulan September ini. Helikopter Chinook tersebut diproyeksikan mulai beroperasi memadamkan api pada periode 12 hingga 19 September 2026, meski sejumlah laporan menyebut operasi dapat dimulai lebih awal jika kesiapan sudah terpenuhi. Bantuan tersebut nantinya digunakan untuk mendukung operasi pemadaman dari udara melalui metode water bombing. Metode ini dipilih karena dinilai paling efektif menjangkau area gambut dan hutan yang sulit diakses jalur darat. Selama masa operasi berlangsung, koordinasi ketat akan terus dilakukan antara personel Jepang dan aparat setempat.
Dalam pelaksanaannya di lapangan, teknik pengambilan air untuk water bombing dilakukan langsung dari sumber-sumber air terdekat guna mempercepat rotasi pemadaman. Helikopter angkut berat CH-47 Chinook JGSDF akan mengambil pasokan air langsung dari sungai-sungai sekitar dengan kapasitas angkut mencapai 5 ton air untuk sekali curah (water dump). Operasi ini turut menyasar titik api yang membakar sekitar 2.000 kilometer persegi hutan dan lahan gambut di wilayah Kalimantan Barat. Skala luasan yang terdampak tersebut menggambarkan betapa besarnya tantangan yang dihadapi tim gabungan di lapangan. Dengan kapasitas angkut air yang besar, helikopter Chinook diharapkan mampu mempercepat proses pemadaman dibandingkan metode pemadaman darat konvensional.
Kehadiran armada Jepang di Kalimantan Barat pada akhirnya diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi percepatan penanganan karhutla yang selama ini menjadi persoalan tahunan di wilayah tersebut. Kerja sama pertahanan yang terjalin juga dinilai memperkuat hubungan diplomatik kedua negara di luar ranah dialog strategis semata. Hubungan pertahanan Indonesia-Jepang dinilai sebagai bentuk diplomasi konkret yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat terdampak bencana. Masyarakat di Kalimantan Barat, khususnya yang tinggal di sekitar wilayah rawan kebakaran, berharap kehadiran bantuan internasional ini dapat mempercepat pemulihan kualitas udara yang sempat memburuk. Ke depan, kerja sama semacam ini berpotensi menjadi model kolaborasi penanganan bencana antarnegara di kawasan Asia Tenggara.
