
KOTA MEDAN – Tabuhan bedug oleh Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menjadi penanda resmi dibukanya Ramadhan Fair XX di Taman Sri Deli, Rabu (25/2/2026) malam. Peresmian tersebut disambut antusias ribuan warga yang memadati lokasi acara. Suasana pembukaan berlangsung meriah namun tetap khidmat. Momentum ini sekaligus menandai dimulainya rangkaian kegiatan selama bulan suci Ramadan di Kota Medan.
Ramadhan Fair tahun ini terasa istimewa karena memasuki usia ke-20 tahun penyelenggaraan. Selama dua dekade, kegiatan ini konsisten digelar oleh Pemerintah Kota Medan. Ajang tahunan tersebut menjadi bagian dari agenda resmi pemerintah kota setiap Ramadan. Konsistensi ini dinilai sebagai bentuk komitmen dalam memadukan syiar keagamaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dalam sambutannya, Rico Tri Putra Bayu Waas menyampaikan rasa syukur dapat kembali bertemu dengan bulan suci Ramadan. Ia juga mengungkapkan kebanggaan atas perjalanan panjang Ramadhan Fair yang telah mencapai dua dekade. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga ruang silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat. Ia berharap Ramadhan Fair terus berkembang dan memberi manfaat luas.
Pembukaan acara ditandai dengan tabuhan bedug sebagai simbol dimulainya kegiatan. Dentuman bedug diiringi tepuk tangan dan lantunan salawat dari para pengunjung. Nuansa religius terasa kuat di tengah gemerlap panggung utama. Perpaduan antara tradisi dan modernitas menjadi ciri khas perhelatan tersebut.
Ramadhan Fair XX menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari bazar kuliner, pameran UMKM, hingga pentas seni religi. Ratusan pelaku usaha mikro dan kecil diberi ruang untuk memasarkan produknya. Kehadiran stan-stan makanan khas Ramadan menjadi daya tarik utama bagi pengunjung. Aktivitas ini diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian rakyat.
Selain aspek ekonomi, Ramadhan Fair juga menonjolkan kegiatan keagamaan. Terdapat tausiyah, lomba-lomba islami, serta pertunjukan seni bernuansa religi. Pemerintah kota menilai kegiatan ini sebagai sarana memperkuat nilai spiritual masyarakat. Ramadan dijadikan momentum untuk mempererat ukhuwah dan meningkatkan keimanan.
Taman Sri Deli dipilih sebagai lokasi utama karena memiliki nilai historis dan strategis di pusat kota. Area tersebut mampu menampung ribuan pengunjung setiap malamnya. Penataan lokasi dilakukan agar pengunjung merasa nyaman dan aman. Aparat keamanan dan petugas kebersihan turut disiagakan selama kegiatan berlangsung.
Pemerintah Kota Medan menargetkan Ramadhan Fair mampu meningkatkan pendapatan pelaku UMKM secara signifikan. Selama dua dekade pelaksanaannya, kegiatan ini telah menjadi wadah promosi yang efektif. Banyak pelaku usaha mengaku omzetnya meningkat selama Ramadan. Oleh karena itu, keberlanjutan acara ini dianggap penting.
Dalam kesempatan tersebut, wali kota juga mengajak masyarakat menjaga ketertiban dan kebersihan selama acara. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan warga. Keberhasilan Ramadhan Fair tidak terlepas dari partisipasi aktif masyarakat. Dengan suasana yang kondusif, kegiatan dapat berjalan lancar hingga akhir Ramadan.
Perayaan dua dekade Ramadhan Fair juga menjadi refleksi perjalanan Kota Medan. Sejak pertama kali digelar, acara ini terus mengalami perkembangan dari segi konsep dan skala. Inovasi dilakukan setiap tahun untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Namun, nilai religius tetap menjadi fondasi utama.
Antusiasme masyarakat terlihat dari padatnya pengunjung sejak malam pembukaan. Banyak keluarga datang bersama untuk menikmati suasana Ramadan. Kehangatan kebersamaan menjadi pemandangan yang dominan. Hal ini menunjukkan Ramadhan Fair telah menjadi bagian dari tradisi tahunan warga Medan.
Pemerintah kota memastikan bahwa seluruh kegiatan tetap memperhatikan protokol keamanan dan keselamatan. Koordinasi dilakukan dengan berbagai instansi terkait. Langkah ini penting untuk mengantisipasi potensi gangguan selama acara berlangsung. Keamanan menjadi prioritas utama.
Selain memberikan ruang bagi UMKM lokal, Ramadhan Fair juga menjadi ajang promosi budaya daerah. Beragam pertunjukan seni tradisional ditampilkan untuk memperkaya acara. Hal ini menjadi upaya melestarikan budaya sekaligus menarik minat generasi muda. Sinergi antara ekonomi, budaya, dan agama menjadi nilai tambah kegiatan ini.
Menjelang akhir sambutannya, wali kota berharap Ramadhan Fair terus menjadi kebanggaan masyarakat Medan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri. Semangat kebersamaan dan gotong royong diharapkan terus terjaga. Pemerintah berkomitmen mempertahankan tradisi positif ini.
Dengan dibukanya Ramadhan Fair XX, Kota Medan kembali menegaskan identitasnya sebagai kota yang religius dan dinamis. Dua dekade perjalanan menjadi bukti konsistensi dalam menyatukan syiar agama dan pemberdayaan ekonomi. Kehadiran ribuan warga pada malam pembukaan menunjukkan tingginya dukungan masyarakat. Ramadhan Fair diharapkan terus menjadi ruang kebersamaan dan kemajuan bagi seluruh warga Kota Medan.
