
WARTAWAN24.COM – Badan Pusat Statistik mencatat jumlah pengangguran di Provinsi Sumatera Utara mengalami penurunan hingga November 2025. Total pengangguran tercatat sebanyak 445 ribu orang. Angka ini setara dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,28 persen. Penurunan ini menunjukkan perbaikan kondisi ketenagakerjaan. Tren positif mulai terlihat dibanding periode sebelumnya.
Pada Agustus 2025, jumlah pengangguran di Sumatera Utara masih berada di angka 448 ribu orang. Tingkat pengangguran saat itu mencapai 5,32 persen. Selisih penurunan tercatat sekitar tiga ribu orang. Secara persentase, terjadi penurunan sebesar 0,67 persen. Perubahan ini dinilai cukup signifikan dalam kurun waktu singkat.
Kepala BPS Sumatera Utara, Asim Saputra, menyampaikan data tersebut secara resmi. Ia menjelaskan bahwa penurunan terjadi secara bertahap. Periode Agustus hingga November 2025 menunjukkan tren yang konsisten. Data dihimpun melalui survei ketenagakerjaan nasional. Hasilnya mencerminkan dinamika pasar kerja di daerah.
Asim Saputra menegaskan bahwa tren penurunan ini perlu terus dijaga. Menurutnya, kondisi ekonomi yang stabil turut berpengaruh. Aktivitas sektor usaha mulai bergerak kembali. Beberapa lapangan kerja baru tercipta. Hal ini membantu menekan angka pengangguran.
Sektor jasa dan perdagangan disebut menjadi penyumbang utama penyerapan tenaga kerja. Selain itu, sektor industri pengolahan juga menunjukkan peningkatan. Pertanian dan perkebunan masih menjadi tumpuan di wilayah pedesaan. Berbagai sektor tersebut menyerap tenaga kerja lokal. Kombinasi ini membantu menurunkan angka pengangguran.
Pemerintah daerah dinilai berperan dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif. Program pelatihan kerja terus digalakkan. Dukungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah diperkuat. Hal ini membuka peluang kerja baru. Sinergi antarinstansi menjadi faktor pendukung.
Meski terjadi penurunan, angka pengangguran masih tergolong tinggi. Jumlah 445 ribu orang masih menjadi tantangan serius. Pemerintah diharapkan terus meningkatkan kebijakan pro-ketenagakerjaan. Upaya penciptaan lapangan kerja harus berkelanjutan. Fokus juga diarahkan pada peningkatan kualitas tenaga kerja.
BPS mencatat mayoritas pengangguran berasal dari usia produktif. Kelompok usia muda mendominasi angka tersebut. Hal ini menunjukkan pentingnya akses kerja bagi lulusan baru. Kesesuaian antara pendidikan dan kebutuhan industri menjadi perhatian. Penyesuaian kurikulum dinilai perlu.
Selain usia, tingkat pendidikan juga memengaruhi pengangguran. Lulusan sekolah menengah masih mendominasi. Namun, lulusan perguruan tinggi juga menghadapi tantangan serupa. Persaingan kerja semakin ketat. Keterampilan tambahan menjadi nilai penting.
Program vokasi dan pelatihan kerja dinilai efektif. Pemerintah daerah bekerja sama dengan dunia usaha. Pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Peserta didorong memiliki keterampilan praktis. Hal ini meningkatkan peluang terserap kerja.
Pertumbuhan ekonomi daerah turut memengaruhi penyerapan tenaga kerja. Ketika ekonomi bergerak, kebutuhan tenaga kerja meningkat. Investasi baru memberikan dampak positif. Proyek pembangunan membuka lapangan kerja sementara. Dampak lanjutan juga dirasakan masyarakat.
Asim Saputra menyebutkan pentingnya menjaga stabilitas ekonomi. Inflasi yang terkendali mendukung daya beli masyarakat. Konsumsi yang meningkat mendorong aktivitas usaha. Hal ini berdampak pada penciptaan kerja. Rantai ekonomi berjalan lebih baik.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyambut baik data BPS tersebut. Penurunan pengangguran dianggap sebagai capaian positif. Namun, evaluasi kebijakan tetap diperlukan. Program yang efektif akan diperluas. Program kurang optimal akan diperbaiki.
Dunia usaha juga berperan penting dalam penyerapan tenaga kerja. Investasi swasta menjadi motor penggerak. Kemudahan perizinan mendorong minat investor. Dengan investasi, lapangan kerja bertambah. Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan.
Masyarakat diharapkan terus meningkatkan kompetensi diri. Keterampilan digital semakin dibutuhkan. Adaptasi terhadap perubahan teknologi menjadi penting. Peluang kerja baru bermunculan di sektor digital. Tenaga kerja harus siap bertransformasi.
BPS memastikan data yang disampaikan akurat dan terpercaya. Metodologi survei dilakukan secara nasional. Data menjadi rujukan kebijakan pemerintah. Analisis mendalam terus dilakukan. Informasi ini penting bagi pengambil keputusan.
Tantangan ketenagakerjaan ke depan masih cukup besar. Perubahan global memengaruhi pasar kerja lokal. Namun, peluang juga terbuka luas. Inovasi dan kreativitas menjadi kunci. Daerah harus mampu beradaptasi.
Pemerintah pusat dan daerah perlu terus bersinergi. Program ketenagakerjaan harus sejalan. Dukungan anggaran menjadi faktor penting. Evaluasi rutin diperlukan. Tujuannya untuk menekan pengangguran lebih jauh.
Masyarakat berharap tren penurunan ini berlanjut. Kesempatan kerja yang merata menjadi harapan. Pemerataan pembangunan juga berpengaruh. Daerah terpencil perlu mendapat perhatian. Penciptaan kerja harus inklusif.
Penurunan pengangguran di Sumatera Utara menjadi sinyal positif. Meski belum ideal, arah perbaikan sudah terlihat. Upaya bersama harus terus dilakukan. Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat memiliki peran masing-masing. Dengan kerja sama, tantangan pengangguran dapat ditekan lebih lanjut.
